Umbul Sandhi YudhaYakin Kita Bisa

11/09/2026

Cara Cek Hoaks dan Informasi Lama yang Beredar Kembali di Media Sosial

Pemeriksaan sumber, tanggal, foto, dan konteks untuk mengecek informasi di media sosial.

Sebuah foto atau video dapat kembali muncul di media sosial bertahun-tahun setelah pertama kali dibuat. Gambarnya masih sama, tetapi keterangan yang menyertainya dapat berubah. Rekaman demonstrasi lama dapat dibagikan seolah-olah terjadi hari ini. Video bencana dari negara lain dapat muncul kembali dengan keterangan lokasi yang berbeda. Sebuah pengumuman yang dahulu pernah berlaku juga dapat kembali beredar ketika ketentuannya sudah berubah.

Dalam situasi seperti ini, informasi yang beredar tidak selalu sepenuhnya palsu. Foto atau videonya dapat benar-benar pernah terjadi, tetapi waktu, tempat, atau konteks yang menyertainya tidak lagi sesuai.

Perbedaan tersebut penting karena informasi yang benar tetapi ditempatkan dalam konteks yang keliru tetap dapat membentuk pemahaman yang salah.

Pada 2 Agustus 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan masyarakat agar memperhatikan waktu, lokasi, dan sumber ketika menerima foto atau video di ruang digital. Komdigi menyoroti bahwa konten lama yang kembali dipublikasikan tanpa keterangan waktu yang tepat dapat menimbulkan persepsi yang berbeda dari peristiwa sebenarnya.

Karena itu, kemampuan memeriksa informasi tidak selalu dimulai dari pertanyaan “apakah ini hoaks?”. Pertanyaan yang lebih berguna sering kali adalah: apakah informasi ini masih mempunyai konteks yang benar?

Membaca Informasi Lebih Jauh dari Judul

Judul, caption, atau pesan yang menyertai sebuah unggahan merupakan bagian yang paling cepat dibaca. Namun, bagian tersebut belum tentu cukup untuk menjelaskan keseluruhan informasi.

Sebuah unggahan dapat mengatakan bahwa suatu kejadian berlangsung “hari ini”, tetapi artikel sumbernya ternyata berasal dari beberapa tahun sebelumnya. Foto dapat menampilkan kejadian nyata, sementara keterangannya menggunakan nama kota yang berbeda. Kutipan seseorang dapat benar, tetapi dipisahkan dari konteks pembicaraan yang lebih panjang.

Karena itu, sebelum meneruskan informasi, ada baiknya pembaca membuka sumber asalnya jika tersedia.

Tanggal publikasi dapat diperiksa. Nama media atau instansi dapat dilihat kembali. Jika unggahan menyebut suatu kebijakan pemerintah, informasi dapat dibandingkan dengan website atau akun resmi lembaga yang berkaitan.

Proses tersebut tidak harus selalu rumit.

Terkadang cukup dengan meluangkan beberapa menit untuk melihat siapa yang pertama kali mempublikasikan informasi dan kapan informasi tersebut dibuat.

Informasi Lama Tidak Otomatis Menjadi Hoaks

Salah satu hal yang perlu dibedakan adalah informasi lama dan informasi palsu.

Berita mengenai suatu peristiwa pada tahun 2024, misalnya, tetap dapat menjadi informasi yang benar mengenai peristiwa tahun tersebut. Persoalannya muncul ketika berita itu dibagikan pada 2026 dengan narasi yang membuat pembaca mengira bahwa peristiwa tersebut baru saja terjadi.

Dengan demikian, informasi dapat mempunyai fakta yang benar tetapi konteks yang sudah berubah.

Komdigi secara khusus mengingatkan mengenai pola seperti ini pada Agustus 2026. Masyarakat dianjurkan memperhatikan tanggal unggahan, sumber informasi, dan membandingkannya dengan pemberitaan media yang kredibel sebelum ikut menyebarkan suatu konten.

Cara melihatnya cukup sederhana.

Alih-alih hanya bertanya apakah foto tersebut asli, kita dapat bertanya kapan foto dibuat, di mana peristiwa terjadi, siapa yang pertama kali mengunggahnya, serta apakah keterangan yang beredar saat ini masih sesuai dengan konteks asalnya.

Pertanyaan tersebut membantu kita menghindari kesimpulan yang terlalu cepat.

Foto dan Video Juga Dapat Ditelusuri

Foto mempunyai kelebihan sekaligus keterbatasan. Ia dapat memperlihatkan suatu kejadian dengan sangat kuat, tetapi foto tidak selalu menjelaskan kapan dan di mana kejadian tersebut berlangsung.

Karena itu, gambar yang terlihat meyakinkan masih dapat diperiksa lebih lanjut.

Salah satu cara yang relatif mudah adalah melakukan pencarian menggunakan gambar. Google Lens, misalnya, dapat menampilkan gambar serupa maupun situs yang pernah memuat gambar tersebut. Dari hasil tersebut, pengguna dapat melihat apakah foto sudah pernah dipublikasikan lebih dahulu dalam konteks yang berbeda.

Cara ini juga dapat digunakan terhadap potongan video. Sebuah tangkapan layar dari video dapat ditelusuri untuk melihat apakah gambar serupa pernah muncul di internet.

Hasil penelusuran tidak selalu langsung memberikan jawaban akhir. Namun, ia dapat memberi petunjuk mengenai sumber awal dan usia sebuah konten.

Jika foto yang disebut berasal dari kejadian minggu ini ternyata sudah muncul di internet beberapa tahun sebelumnya, konteks unggahan tersebut layak diperiksa kembali.

Periksa Klaimnya, Bukan Hanya Akunnya

Akun yang menyebarkan informasi juga penting diperhatikan, tetapi nama akun saja tidak selalu cukup untuk menentukan kebenaran suatu informasi.

Akun dengan banyak pengikut tetap dapat melakukan kekeliruan. Sebaliknya, informasi dari akun kecil juga belum tentu salah.

Karena itu, perhatian sebaiknya diarahkan pada klaim yang disampaikan dan bukti yang mendukungnya.

Jika sebuah unggahan menyebut adanya perubahan kebijakan pajak, misalnya, pembaca dapat mencari sumber resmi dari instansi yang mempunyai kewenangan. Jika berkaitan dengan perbankan, sumber regulator atau bank terkait dapat menjadi pembanding. Jika berkaitan dengan kejadian di suatu daerah, media lokal dan sumber resmi setempat dapat membantu memberikan konteks tambahan.

CekFakta.com sendiri dibangun sebagai kolaborasi antara MAFINDO, AJI, dan AMSI untuk melakukan pemeriksaan fakta terhadap informasi yang beredar. Dalam prosesnya, klaim diverifikasi dan dibandingkan dengan sumber yang relevan sebelum hasil pemeriksaan dipublikasikan.

Membandingkan beberapa sumber membantu pembaca mengurangi ketergantungan pada satu unggahan saja.

Kecepatan Membagikan Informasi Tidak Selalu Menjadi Keuntungan

Media sosial membuat informasi bergerak sangat cepat. Dalam beberapa menit, satu unggahan dapat berpindah dari satu grup ke grup lain dan menjangkau ribuan orang.

Kecepatan tersebut memberikan manfaat ketika informasi memang dibutuhkan segera. Namun, ruang yang sama juga memungkinkan informasi yang belum lengkap menyebar sebelum sempat diperiksa.

Karena itu, ada nilai besar dalam memberi sedikit jeda sebelum menekan tombol bagikan.

Tidak membagikan suatu informasi selama beberapa menit tidak membuat kita kehilangan kesempatan untuk membantu orang lain. Justru waktu tersebut dapat digunakan untuk memastikan bahwa informasi yang diteruskan masih relevan dan mempunyai konteks yang cukup.

Dalam literasi digital, kemampuan untuk menunda reaksi dapat sama pentingnya dengan kemampuan menggunakan teknologi.

Memeriksa Informasi adalah Kebiasaan, Bukan Sekadar Teknik

Tidak semua orang harus menjadi pemeriksa fakta profesional.

Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan sederhana ketika menemui informasi yang terasa penting, mengejutkan, atau mendorong kita untuk segera bereaksi.

Kita dapat melihat sumbernya, membaca lebih dari judulnya, memeriksa tanggal, memahami lokasinya, dan membandingkannya dengan sumber lain. Jika foto atau video menjadi dasar klaim, gambar tersebut dapat ditelusuri kembali untuk mencari konteks awal.

Kebiasaan seperti ini tidak menjamin setiap informasi langsung dapat dipastikan benar atau salah. Dalam beberapa kasus, informasi memang membutuhkan waktu untuk diverifikasi.

Namun, setidaknya kita mempunyai dasar yang lebih baik sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Bagi Umbul Sandhi Yudha, literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat, aplikasi, atau sistem informasi. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi yang bergerak melalui teknologi tersebut.

Ruang digital yang sehat tidak hanya dibentuk oleh platform atau sistem keamanan. Ia juga dibentuk oleh kebiasaan penggunanya dalam membaca, memeriksa, dan memberikan konteks.

Karena itu, ketika sebuah foto, video, atau pesan kembali muncul di layar, mungkin kita tidak perlu langsung menentukan bahwa informasi tersebut benar atau salah.

Kita dapat memulainya dengan pertanyaan yang lebih sederhana:

Dari mana informasi ini berasal, kapan dibuat, dan apakah konteksnya masih sama dengan yang sedang diceritakan sekarang?

Beberapa menit untuk menemukan jawabannya dapat membantu kita memahami informasi dengan lebih jernih sebelum meneruskannya kepada orang lain.

KONSULTASI USY

Apakah usaha anda menghadapi kebutuhan yang serupa?

USY membantu perusahaan memahami kebutuhan usaha dan mengembangkan solusi yang relevan dengan proses operasional.

Konsultasikan Kebutuhan Anda