Umbul Sandhi YudhaYakin Kita Bisa

07/10/2026

Papan Interaktif Digital Masuk Kelas: Siswa Makin Aktif atau Sekadar Menonton?

Layar besar menyala di depan kelas. Gambar terlihat jelas, video dapat diputar, dan materi bisa ditampilkan tanpa menulis ulang seluruh penjelasan di papan. Kehadiran papan interaktif digital membuka banyak kemungkinan bagi kegiatan belajar. Namun, ada pertanyaan yang menentukan manfaatnya: apakah siswa ikut berpikir dan mencoba, atau hanya berpindah dari mendengarkan penjelasan menjadi menonton layar?

Pertanyaan tersebut relevan dengan berita Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal, Kemendikdasmen, pada 6 Oktober 2026. Melalui webinar Bincang Dunia PeNFI, penggunaan papan interaktif digital dibahas untuk mendukung pembelajaran di satuan pendidikan nonformal. Salah satu penekanannya adalah memilih fitur dan konten sesuai tujuan belajar agar teknologi mendorong keterlibatan peserta didik.

Bagi sekolah maupun pusat kegiatan belajar masyarakat, perangkat baru membawa kesempatan untuk memperkaya penjelasan. Proses yang sulit dibayangkan dapat ditampilkan melalui gambar bergerak. Sebuah persoalan dapat dibahas bersama di layar. Akan tetapi, tersedianya perangkat belum otomatis mengubah cara siswa mengikuti pelajaran. Kegiatan yang dirancang pendidik tetap menentukan bagaimana teknologi digunakan.

Bayangkan pembelajaran mengenai pengelolaan sampah. Guru dapat memutar video tentang pemilahan, lalu meminta siswa mencatat penjelasannya. Pilihan lain adalah menampilkan gambar berbagai benda, mengajak siswa menentukan kelompoknya, kemudian membahas alasan di balik jawaban mereka. Pada kegiatan kedua, layar menjadi tempat menguji pemahaman, bukan hanya menyampaikan informasi.

Contoh tersebut merupakan gambaran penerapan, bukan laporan kegiatan dalam webinar. Perbedaannya terletak pada kesempatan siswa untuk membuat keputusan. Ketika mereka diminta memilih, menjelaskan, dan membandingkan jawaban, guru memperoleh petunjuk mengenai bagian yang sudah dipahami serta bagian yang masih membingungkan.

Karena itu, persiapan pembelajaran dapat dimulai dari satu pertanyaan sederhana: setelah kegiatan selesai, siswa diharapkan mampu melakukan apa? Jika tujuannya memahami hubungan sebab dan akibat, materi dapat disertai persoalan yang meminta siswa membuat perkiraan. Jika tujuannya mengenali bentuk, siswa dapat membandingkan objek dan menjelaskan cirinya. Fitur perangkat dipilih setelah tujuan tersebut jelas.

Kesempatan berpartisipasi juga perlu dibagikan. Jika hanya siswa yang paling percaya diri maju menggunakan layar, sebagian teman mungkin tetap menjadi penonton. Guru dapat memberi waktu diskusi berpasangan, meminta setiap kelompok menyampaikan alasan, atau mengajak siswa menulis jawaban terlebih dahulu. Dengan cara ini, keterlibatan tidak bergantung pada siapa yang mendapat giliran menyentuh perangkat.

Kegiatan di layar pun dapat dihubungkan dengan pengalaman langsung. Setelah melihat gambar tumbuhan, siswa dapat mengamati daun di sekitar tempat belajar. Setelah membahas ukuran, mereka dapat mengukur benda menggunakan alat sederhana. Teknologi membantu membuka pengamatan, sementara kegiatan nyata memberi kesempatan untuk memeriksa dan menerapkan pemahaman.

Perhatian terhadap proses berpikir juga menjadi pembahasan dalam artikel Warta USY “Siswa dan AI: Kapan Bantuan Belajar Berubah Menjadi Jawaban Instan?”. Meskipun perangkatnya berbeda, pertanyaan dasarnya tetap berkaitan: apakah penggunaan teknologi membantu siswa memahami materi dan menjelaskan kembali dengan bahasanya sendiri?

Dari sisi pengelolaan, lembaga pendidikan juga perlu menyiapkan perangkat agar mudah digunakan. Materi sebaiknya diperiksa sebelum kegiatan dimulai, sambungan dan sumber listrik dipastikan sesuai kebutuhan, serta alternatif pembelajaran tersedia ketika perangkat mengalami kendala. Kesiapan ini membantu pendidik menjaga waktu belajar tanpa harus menghabiskan sesi untuk menyelesaikan masalah teknis.

Keberhasilan penggunaan papan interaktif digital dapat dilihat melalui hasil pekerjaan dan penjelasan siswa. Apakah mereka mampu mencoba persoalan lain? Apakah alasan yang disampaikan semakin jelas? Jawaban atas pertanyaan tersebut lebih berguna untuk mengevaluasi pembelajaran daripada sekadar menghitung berapa kali layar dinyalakan. Ketika perangkat memberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan mencoba, kelas memiliki peluang menjadi lebih hidup sekaligus lebih bermakna.

KONSULTASI USY

Apakah usaha anda menghadapi kebutuhan yang serupa?

USY membantu perusahaan memahami kebutuhan usaha dan mengembangkan solusi yang relevan dengan proses operasional.

Konsultasikan Kebutuhan Anda